13
Dec
07

Mengakui kekalahan

Terkadang kita berada di tengah sebuah pertandingan ataupun sebuah perlombaan. Dimana para pesertanya mengincar apa yang disebut dengan kemenangan. Sebuah kemenangan adalah sesuatu yang wajar yang ingin dicapai kala bertanding ataupun ikut dalam suatu perlombaan. Sesuatu yang membutuhkan kerja keras, proses dan sedikit keberuntungan untuk dapat menggapainya. Kerja keras dalam segala hal yang membuat segalanya terasa mungkin. Proses yang menjadikan kita lebih baik. Dan sedikit keberuntungan yang membuat kemenangan itu ada dan nyata.
Namun di dalam pertandingan atau perlombaan, tak hanya melulu ada yang namanya kemenangan. Ada juga sesuatu, yang sering dijauhi, yang kita sebut kekalahan. Ya dalam pertandingan pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Bagai dua sisi mata uang yang tidak akan terpisahkan satu sama lain. Keduanya saling melengkapi. Jika tak ada yang menang, maka tak ada yang kalah. Dan sebaliknya, jika tak ada yang kalah, maka tak ada yang menang. Kemenangan dan kekalahan bukanlah sesuatu yang luar biasa. Mereka ada karena kita ada dalam dunia dengan konsep keseimbangan. Ada baik ada buruk, ada hitam ada putih, ada siang ada malam, ada laki-laki ada wanita dan ada menang ada yang kalah. Semuanya sudah ada dalam tatanan hidup alam semesta.
Duh sebenarnya apa sich yang mau diomongin??. Hal sederhana saja sich. Sebenarnya pernahkah kita mengakui suatu kekalahan. Relakah kita jika kemenangan itu diambil oleh orang lain. Sudikah kita saat musuh atau lawan kita itu berbangga akan kemenangannya itu. Emosikah kita saat kita hanya bisa mengecap kekalahan itu. Duh pasti sedih dan jengkel pastinya. Kalo bahasa Banyumasnya “wadeh” (ya biar memperkaya kosakata kita :-p). Sebel dong pastinya. Ya.. iyalah… mana ada orang yang mau kalah. Sifat alami manusia kan emang gitu. Jadi nggak usah heran dan panik dalam menyikapinya.
Truss… apa yang akan kamu lakukan jika kamu mengalami kekalahan itu. Nangis….. marah….. jengkel….. kecewa….. atau malah emosi dan mencoba memprotes keputusan juri ataupun wasit yang memimpin pertandingan itu. Trus.. berbuat anarkis dan mengacaukan keadaan yang sudah kacau ini. Duuh… nggak jaman lagi deh yang begitu-begituan. Ntar kamu malah dibilang “katrok”, “wong ndeso”, “kamso” de el el, de es be, de es te… lo!!.
Seharusnya tuh kita bisa lebih bersikap dewasa dalam menyikapi kekalahan itu. Mengambil istilah dalam olahraga yaitu kita harus lebih profesional. Tapi tak banyak orang bisa bersikap demikian. Tadi baru saja saya menyaksikan sebuah pertandingan Liga Inggris di sebuah stasiun TV swasta yang cukup seru sekaligus menegangkan. Gimana enggak, pelanggaran keras dan tekel-tekel yang menjurus berbahaya banyak di lakukan oleh masing-masing pemain dari dua klub yang bertanding itu. Tapi kalo kita cermati, keputusan wasit yang memberikan kartu kuning kepada pemain masing-masing klub yang melakukan pelanggaran keras ditanggapi biasa oleh para pemain. Mereka memang sesekali protes akan keputusan kartu kuning itu, tapi mereka tidak berani sekalipun untuk menyentuh, mendorong apalagi memukuli wasit yang memimpin pertandingan itu. Di sana wasit sangat dihargai dan dijunjung tinggi. Wasit adalah seorang yang tidak tersentuh. Bahasa kerennya “Untouchable Person”. Tapi Kita coba lihat aja di negara kita Indonesia tercinta ini. Kasus pemukulan wasit terjadi dimana-mana. Para pemain ibarat amatiran yang digaji tinggi oleh APBD yang harusnya untuk kesejahteraan rakyat. Mereka tidak punya sikap profesional sebagai seorang atlet. Hal yang ironis lagi tak ada prestasi Timnas kita akibat keadaan yang tidak kondusif seperti ini. Kasus terbaru aja Pilkada di Maluku Utara. Gimana tuh orang-orang yang mendukung calon Gubernur yang kalah dalam Pilkada di Maluku Utara protes keras dan berbuat anarkis, padahal kalau kita lihat sekilas aja para pendukung itu bukan anak kecil lagi. Mereka udah dewasa kan??. Tapi koq kelakuan kayak anak kecil gitu ya??. Nggak tau tuh kenapa??. Apa mungkin mereka terhasut ama bujuk rayu calon Gubernur yang kalah itu biar mereka semua pada protes. Massa yang sudah emosi ini kemudian dengan mudahnya memboikot hasil Pilkada dan melakukan serangan ke pihak lawan. Anarkis dan kekerasan ibarat jalan keluar terbaik bagi mereka. Padahal kan masih ada jalur hukum untuk menyelesaikannya. Dan jika memang hukum di sini memang tidak berjalan semestinya kan mereka harusnya tidak bertindak anarkis seperti itu. Bikin BeTe tau… Atau mungkin mereka memang belum dewasa sepenuhnya. Apa mungkin mereka tidak pernah belajar untuk menghargai suatu keputusan walaupun keputusan itu bisa dibilang sulit diterima. Apa mereka tidak siap untuk menerima kekalahan dan hanya mengharapkan kemenangan. Duhh.. koq picik dan sempit sekali pikiran mereka ya. Kayaknya rakyat, bukan cuma di sana, dan kita sebagai Bangsa yang besar emang butuh apa yang dinamakan pelajaran mengakui kekalahan.
Ya proses berpolitik adalah sesuatu yang membutuhkan dan mengorganisasi kepentingan banyak orang. Ada banyak pihak di dalamnya. Tapi toh kita harus tetap menghargai dan menghormati keputusan orang lain kan. Karena kita tuh hidup di dalam kemajemukan. Kita ini beda sekaligus sama lo. Lo koq gitu??. Ya donk… masih ingat konsep keseimbangan di atas kan. Kita ini beda tetapi kita semua pasti setuju jika perbedaan ini bukanlah untuk suatu perpecahan. Bukankah perbedaan itu adalah suatu anugerah. Bukankah perbedaan itu indah. Semua setuju kan??.
Tapi yang jelas dengan kekalahan, kita jangan hanya terpaku oleh kekalahan itu saja. Harusnya kita mampu melakukan sesuatu agar kita tidak larut dalam kekalahan. Masih banyak hal yang belum kita lakukan di dunia ini. Masih banyak orang lain yang butuh bantuan dan pertolongan kita. Kita belum bisa memberikan banyak buat dunia ini. Walaupun kita kalah kita tetaplah harus berusaha untuk memperbaikinya. Anggap saja kekalahan itu sebagai cambuk buat kita agar lebih baik lagi di masa depan. Bukankah seorang pemenang adalah mereka yang mampu bangkit dari kekalahan mereka. Bukankah seorang pemenang adalah mereka yang menghargai suatu kekalahan dan belajar dari kekalahan itu. Jadi sekarang tanyakan pada dirimu sendiri, Ask Yourself, “Sudahkah aku mengakui kekalahan…..??”


0 Responses to “Mengakui kekalahan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

check out my facebook

Image and video hosting by TinyPic Join Us! Purbalingga Blogger Community on Facebook

follow me on twitter

harga blog-ku


My site is worth $78.
How much is yours worth?


%d bloggers like this: