26
Feb
08

Kemana kami harus mengadu

Hari ini seperti hari – hari kemarin. Hari – hari tentang kecemasan dan kegundahan atas sesuatu yang dinamakan kepentingan publik. Mungkin bukan sepenuhnya kepentingan publik. Atau mungkin penindasan atas nama kepentingan publik lebih tepatnya. Seakan penguasa memang berkuasa penuh atas segalanya. Tanpa hati nurani dan akibat yang akan ditimbulkan, penguasa – penguasa seperti inilah yang semakin membuat rakyat semakin sengsara. Mungkin tepat ungkapan Lord Acton “ Power tend to corrupt, absolute power corrupt absolutely ”. Dimana kekuasaan di saat ini adalah segalanya.
Inilah ungkapan hati rakyat kecil, sebut saja Mak Siti, yang jelas – jelas dirugikan dengan hal ini. Tentang kehidupannya nanti bila ini benar – benar terjadi. Tempat berteduhnya yang sebentar lagi akan rata dengan tanah. Minggu ini telah terbit surat edaran dari pemda setempat, bahwa daerah tempat tinggal Mak Siti, dan tetangga – tetangganya serta orang lain di situ, segera digusur dengan alasan akan dibangun tempat belanja termewah di kota yang keras ini. Mungkin terdengar agak paradoks mengingat pendapatan asli daerah ini mencapai 700 miliar lebih per tahun tetapi belum bisa menyejahterakan semua masyarakatnya. Banyak rakyat yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Mencari rezeki dari sisa – sisa mereka yang mempunyai atau barangkali dekat dengan kekuasaan. Demi sesuap nasi, pekerjaan apapun yang ditemukan mereka kerjakan. Tak beda dengan Mak Siti yang pekerjaannya hanya sebagai penjual gado – gado di mana keuntungannya tak seberapa. Di mana ia harus terus berpacu dengan harga – harga yang terus – menerus mengalami kenaikan. Berperang dengan para pengusaha – pengusaha di atas yang mempunyai lebih banyak modal dan berada lebih dekat dengan kekuasaan. Tentu saja ia kalah dan akan tetap kalah. Tak peduli seberapa besar ia berjualan dan berdoa. Sepertinya Tuhan pun tak akan mengubah nasibnya. Nasib atas orang – orang urban yang tak mempunyai kemampuan apa – apa selain keberanian untuk terus berjuang demi hidup. Mungkin agak satir terdengar bahwa mereka pun tak tahu persis akan apa yang mereka kejar. Tapi semangat kebersamaanlah yang akan mereka pertahankan untuk memperjuangkan hidup. Karena bagi mereka hidup tak hanya sekedar anugerah. Namun ia lebih dari semua amanah Tuhan kepada kita.
Sementara Mak Siti masih bingung dan menghitung di mana ia harus tinggal dan berjualan. Ia masih harus berhadapan dengan berbagai macam persoalan “wong cilik”. Yang tentu saja membuatnya semakin tertekan. Di sini tak ada lagi keluarganya yang bisa ia kenal. Semua sudah terpisah jauh entah di mana. Ia hanya sendirian untuk terus bertahan hidup. Dari gado – gado itulah ia bergantung. Ya semuanya ia gantungkan pada menjual gado – gado itu. Tak ada lagi tempatnya bergantung bila daerahnya benar – benar akan digusur. Sumber harapan satu – satunya akan segera hilang. Padahal harapanlah yang akan membuat kita semua bertahan hidup. Tapi bila sudah tidak punya harapan lagi, mau kemana kita melangkah. Lebih baik mati daripada tidak ada harapan sama sekali.
Hari itu benar – benar tiba. Puluhan petugas pamong praja datang bersama alat – alat berat mereka. Bukan untuk mengayomi, tapi untuk merebut hak kaum miskin. Alat – alat berat mereka, buldozer, bagai monster raksasa yang siap melumat apa saja yang menentang. Seperti penguasa kejam yang menindas apa saja yang mereka inginkan. Bagai goliath dengan kepalan sebesar gajah dan tenaganya yang luar biasa. Tentu saja mereka sanggup merobohkan apa saja. Termasuk nyali. Mak Siti cuma bisa tertegun saat mereka datang. Kini ia benar – benar bingung. Jauh di bawah titik nadir manusia ia berada. Seandainya monster – monster itu bukan untuk melumat rumahnya dan rumah tetangganya tentu ia akan sangat bersyukur. Tapi itu cuma mimpi. Dan Mak Siti berharap ini benar – benar mimpi dan tak pernah bangun lagi untuk melihat kenyataan. Mak Siti benar – benar panik dan kini ia hanya pasrah saat monster itu mulai menghancurkan segalanya. Puluhan petugas pamong praja yang bersenjata lengkap, tentu saja senjata itu di beli dari rakyat, menghalangi upaya warga yang menghalangi penggusuran tersebut. Warga tak punya kuasa untuk menang atas para pamong praja itu. Mereka meneriakkan kata – kata penghinaan kepada pemimpin daerah ini. Mereka juga meneriakkan kata – kata keadilan yang jelas – jelas mereka tahu kalau mereka tak bakal mendapatkannya. Sekali lagi mereka cuma bisa pasrah seperti Mak Siti yang kini cuma bisa termenung. Bukan menyesali atas apa yang dilakukan petugas, tapi lebih pada pasrah kepada Tuhan yang ia yakini. Ia masih tengadah memejamkan mata. Memohon supaya diberi ampun dan kesabaran untuk menjalani semua ini. Ia ikhlas tapi ia takkan berhenti untuk tetap melanjutkan hidupnya. Ia percaya hidup itu indah jika kau sendiri yakin. Ia berbisik lirih. Air mata meleleh di bawah matanya. Kemana kami harus berjualan. Kemana kami harus tinggal. Kemana kami harus mengadu….

0 Responses to “Kemana kami harus mengadu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

check out my facebook

Image and video hosting by TinyPic Join Us! Purbalingga Blogger Community on Facebook

follow me on twitter

harga blog-ku


My site is worth $78.
How much is yours worth?


%d bloggers like this: